Senin, 22 November 2021

Gowes Ahad (21/11): Terbukti Goweser Lansia Masih Suka yang Mulus-Mulus





Berfose di Summarecon Bandung
"Merasakan nikmatnya bergowes ria"


Berfose di GOR Arcamanik setelah merambah
Cisaranten - Sindanglaya

Melangkah pasti penuh sumringah, tak hanya untuk
meniti masa depan gemilang, namun juga untuk segera
bergowes ria bersama temen-temennya...


Betapa sumringahnya yang dirasakan dedengkot KisundaGowes-10, Kang Dede Amar. Mengapa? Rupanya beliau sudah tak bisa lagi menyembunyikan kekangenannya untuk bergabung kembali dengan temen-temen gowesnya di Kisunda-10. Coba saja lihat tuh fotonya meuni ngagidig kitu. 

Yah, maklum saja, sudah dua pekan berhalangan gowes sehubungan kesibukan dinasnya melanglang daerah. Tentu, dalam kapasitas beliau sebagai Ketua Umum PGRI Jawa Barat, selain melakukan kegiatan melantik pengurus baru PGRI daerah, juga dalam rangka melakukan pembinaan terkait tugas, fungsi dan kewenangan PGRI Jawa Barat.

Dalam rangka menunjukkan kebahagiannya bergabung kembali bersama goweser RW-10 Antapani Kidul, beliau pun berniat untuk mentraktir kuliner seluruh peserta gowes kali ini.

Wah, tentu saja seluruh goweser yang berjumlah 13 peserta ini senang mendengarnya. Tidak terkecuali betapa "atohnya" respon Kang Tisna, yang dikenal sebagai goweser penikmat kuliner dalam porsi besar.

Masih suka yang licin-licin

Harus diakui peserta KisundaGowes-10 yang didominasi peserta lansia ini memang masih gemar yang mulus-mulus.

"Disini saya merasakan benar-benar nikmatnya bergowes," kata Kang Yopie kepada teman-temannya.

"Benar banget terasa sekali berolah-raganya, udaranya segar, pemandangan alam pegunungannya indah sekali," respon Kang Purnomo.

"Apalagi saya baru pertama kali ke tempat ini. Waduh, jalannya licin dan mulus sekali uyy, indah tenan ini kawasan," kata Kang Dhe Rochadi.

Begitu pun respon goweser lainnya sepakat bahwa jalan yang leluasa, terbuka, udaranya yang segar dan jalannya yang mulus ini sangat disukai para goweser.

Ke-13 goweser pun mulai mempersiapkan diri untuk menjelajahi kawasan Summarecon Bandung dengan jalannya yang lebar dan sangat mulus ini. Ketiga belas goweser itu yakni: Kang Dede Amar, Kang Mumu, Kang Tisna, Kang Dhe Rochadi, Kang Isa Subarsa, Kang Sigit, Kang Purnomo, Kang Rusdi, Kang Yopie, Kang Irsan, Kang Aam, Kang Muryono dan Kang Nana. (Oh, ya, satu goweser lagi Kang Bubun tidak jadi berangkat, karena melayat rekannya yang meninggal).

Kembali ke Pecel Kediri

Setelah berputar-putar di kawasan Summarecon Bandung, perjalanan dilanjutkan menuju kuliner yang telah dikunjungi pekan lalu. Namun diluar dugaan, pengunjung kuliner Pecel Madiun yang berlokasi di Jalan Irigasi ini dipenuhi pengunjung. Beruntung masih ada tempat sebelahnya di Warung Bakso dengan pemilik yang sama.

Bisa ditebak ketika 12 orang itu masuk warung bakso dan mulai duduk di depan meja yang berjejer, mulai terdengar suara riuh, bagai sekumpulan ayam yang diberikan pakan. Tentu saja lengkap dengan cerita tentang tingkah polah tetangga sebelah yang masih kesulitan untuk move-on atau yang belum bisa hijrah dari keruwetan bersosialisasi.

Adapun menu yang dipesan Pecel Kediri, Bebek Goreng, dan Bakso Rusuk. Ketiga menu makanan ini memang berbeda karena rasanya yang memang diatas rata-rata. Bisa ditebak ketika menikmati kuliner ini semuanya begitu tekun, sepi tak ada suara manusia lagi, kecuali suara sendok garpuh yang beradu dengan piring atau mangkok.

Goweser Ibu-ibu ke Sindanglaya

Adapun peserta Goweser Ibu-Ibu RW-10 pada ahad kali ini diikuti oleh 9 peserta, yakni: Ceu Yayah Kaslan, Ceu Yun Gatut, Ceu Nuryani Mumu, Ceu Iis Rusyana, Ceu Rose Purnomo, Ceu Teti Sigit, Ceu Yani Ridwan, Ceu Iis Saefudin, dan Ceu Agustin Tisna.

Jalur/trek yang ditempuh rupanya gowes tipis ke arah Arcamanik, Cisaranten lalu ke arah Sindanglaya, serta kembali lagi dan beristirahat di GOR Arcamanik sebelum kembali lagi ke RW-10 Antapani Kidul.









Senin, 15 November 2021

GowesKisunda--10 (14/11): "Ada yang Bermuram durja, Ada yang Bersuka Cita"

Delapan goweser Kisunda-10 berfose dengan
latar belakang Masjid Terapung Al-Jabbar

Bermain organ untuk menutupi kekecewaan akibat
tidak bisa ikutan gowes bersama temen2

Enam Srikandi Goweser mendapat Pengawalan
Ketua DKM Al-Muhajirin


Hati terasa pilu. Perasaan gundah gulana. Konsentrasi  buyar. Pikiran kacau balau. Kerisauan menekan jiwa. Pandangan nanar. Gejolak jiwa acak kadut.

Jika digambarkan, seperti itulah yang dirasakan dedengkot KisundaGowes-10, Kang Dede Amar, pada ahad pagi kemarin. Mengapa beliau sampai bermuram durja seperti itu? Ah, rupanya, beliau merasa menyesal yang mendalam karena tidak bisa ikut gowes bersama goweser RW-10 dalam dua pekan terakhir. 

Memang persoalannya tidak sepele. Beliau dihadapkan pada dua pilihan. Ikut gowes atau melaksanakan tugas negara? Ya, sudah pasti piihannya adalah melaksanakan tugas negara. Kali ini beliau disibukan oleh kegiatan Lomba Nyanyi Solo dalam rangka HUT PGRI Ke-75 serta Hari Guru Nasional.

Sebagai kompensasi untuk meluapkan kekecewaannya, rupanya beliau tumpahkan pada musik Organ. Beliau pun mulai ngoprek Organ sambil mencoba menekan tuts nada-nada sebuah lagu. Jurnalis Kisunda-10 penasaran, dan mulai berdialog secara imajiner atau berdialog dengan fotonya saja yang sedang nyo'o Organ.

"Nuju naon kang?," tanya Kisunda-10 (KS-10)
"Eh, ada wartawan. Biasa nih kang, lagi belajar main Organ," timpalnya.

Terdengarlah suara nada Piano: Tung tang ting tang ting tung...tung tang ting tang ting ting...

"Lagu itu judulnya apa Kang?" tanya KS-10.
"Lagu ini judulnya Apel kang," jawabnya.
"Hah, lagu Apel? Jadi pengen dengar, coba nyanyikan kang...," penasaran KS-10.
"Nih, Apelangi Pelangi Alangkah Indahmu...," begitu beliau menyanyikannya.

Yah, begitulah dialog imajiner antara jurnalis Kisunda-10 dengan Presiden Toleransi RW-10, Drs. H. Dede Amar, M.Pd, yang juga Ketua Umum PGRI Prov. Jawa Barat ini, yang digadang-gadang bakal jadi Ketua DPD-RI Perwakilan Jabar ini.

Delapan goweser menusuk GBLA

Gowes Ahad Pagi (14/11) kali ini diikuti delapan peserta, yakni: Kang Isa Subarsa, K. Tisna, K. Bubun, K. Kiali, K. Yopie, K. Dhe Rohadi, K. Rusdi dan K. Nana.

Tujuannya ke GBLA (Gelora Bandung Lautan Api). Rute yang ditempuh melalui jalan utama ByPass Soeta, Jalan Gedebage, melewati Summarecon Bandung (untuk berfoto sejenak) kemudian langsung menusuk ke GBLA dan Masjid Terapung Al-Jabbar.

Diluar dugaan setelah dibukanya GBLA, ternyata dipenuhi pengunjung yang begitu tumpah ruah memenuhi jalan-jalan seputaran GBLA. Karena begitu tumpleknya manusia di lokasi itu, kami meneruskan perjalanan ke arah Masjid Terapung Al-Jabbar, yang kabarnya banyak dihuni kaum jin ini.

Kalau dilihat lokasinya memang masjid Al-Jabbar yang peletakan batu pertamanya pada akhir 2017 ini kurang strategis dan berjauhan dari Stadion GBLA. Entah bagaimana pertimbangan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan dan Wagub Jabar Deddy Mizwar ini, sehingga masjid yang memakan biaya diatas Rp 600 M sampai Rp 1 T ini kondisinya kini begitu memprihatinkan.

Padahal masjid itu, sedianya akan dijadikan ikon baru kota Bandung serta dijadikan obyek wisata religi. Kini pembangunannya sudah terhenti dengan sisa-sisa material berserakan. Masjid Al-Jabbar boleh dibilang menjadi salah satu proyek mangkrak dan sudah tidak jelas lagi siapa yang harus bertanggung jawab.

Setelah melewati Masjid yang kini kondisinya tidak karuan itu, perjalanan dilanjutkan ke Jalan Cimencrang yang hanya sekitar 2 KM saja sudah masuk kembali ke Jalan Bypass samping Polda Jabar.

Perjalanan berlanjut ke arah Barat hingga sampai di Jalan Irigasi belakang Lotte Mart. Disinilah tujuan kuliner kali ini.

Pecel Kediri Maknyus

Pecel Kediri Ny. Atis memang bukan pecel biasa. Maksudnya rasanya gak biasa-biasa saja. Boleh dibilang luar biasa. Hal ini diakui oleh beberapa goweser. Kang Tisna, misalnya, yang mengatakan bahwa pecel Kediri Ny. Atis ini jauh lebih enak dari pecel langganan kita di Arcamanik.

Begitupun dengan Kang Bubun, yang mengakui bahwa memang kualitas lebih bagus, apalagi ketika dipadu dengan telur asin, seperti yang dikonsumsinya. Kang Yopie, Kang Nana dan Kang Rusdi pun tak urung menunjukkan jempolnya pertanda bahwa memang rasanya jempolan. 

Kang Dhe Rochadi yang memilih menu nasi empal pun tampak sangat puas bahkan harus terpaksa senyam-senyum sendiri. Kang Isa dengan pilihan nasi rawonnya tampak begitu sumringah. 

Bagaimana dengan Kang Tisna? Wow, kang Tisna ini tak cukup satu porsi tapi langsung pesan setara dengan empat porsi, yakni Bebek Kremes, Ayam Kremes, Rawon, plus satu satu porsi lagi nasi pecel yang sedianya untuk Kang Kiali. Harap maklum, Kang Tisna ini memang dipersiapkan sebagai kandidat atau calon tunggal untuk menghadapi Lomba Makan Tingkat Kecamatan hahaha (guyon kang teu kenging bendu.red)

Khusus tentang Kang Kiali, rupanya beliau telah memisahkan diri dan pulang duluan sehubungan dengan kondisi kesehatan. Kami dapat memaklumi dan semoga kondisi beliau tetap sehat waafiat.

Gowes Ibu-ibu ke KBP

Gowes Ahad kali inipun dikejutkan dengan enam orang ibu-ibu yang melakukan perjalan ke Kota Baru Parahiyangan (KBP). Wow, luar biasa ibu-ibu RW.10 ini. Tentu saja mendapat pengawalan dari dua orang Goweser Kisunda-10, yakni Kang Sigit dan Kang Sae.

Selamat ya kepada ibu-ibu yang juga telah melakukan napak tilas seperti yang telah dilakukan oleh bapak-bapak goweser RW-10. Semoga pesertanya semakin banyak.

Alhamdulillah perjalanan telah berlangsung dengan lancar dan selamat hingga sampai ke rumahnya masing-masing.//**nas












Sabtu, 13 November 2021

Posyandu Irmasari RW-10 Ankid: Memantau Gizi Balita dan Pertumbuhkembangannya

SetiapBalita perlu dipantau gizi dan
pertumbuhkembangannya

Posyandu RW-10 senantiasa dipantau dari Kelurahan
Antapani Kidul


Kegiatan Posyandu Irma Sari RW-10, Jumat, 12-11-2021, dimulai Pukul 10.00 wib s/d Selesai.
Kegiatan diawali dengan melakukan Sweping Balita di 06 (enam) RT yang ada di lingkungan Rw-10 Ankid.

Adapun jumlah Balita Aktif yang terdata di Sasaran Posyandu per November 2021 adalah berjumlah 53 Balita.

Jika dibandingkan dengan jumlah Balita bulan lalu yakni 55 Balita, maka pada bulan ini mengalami pengurangan dua Balita. Kedua Balita ini sudah  dinyatakan Lulus pada usia 59 bulan.

Jumlah kader yang bertugas Sweping 5 Orang yakni: Ibu Emay Maemunah, Ibu Yayah Rochmiyati, Ibu Olis, Ibu Dian Astika dan Ibu Windya Sodyawati.

Menurut salah seorang kader, Ibu Olis, bahwa penyediaan  menu PMT Balita Bulan November berupa Olahan Tempe + Buah Melon. "Pengolahan PMT bulan ini dibuat oleh Rt-04, dengan olah kreasi Bahan Dasar Tempe dibuat menjadi Nugget Tempe," kata bu Olis.

Menurut bu Olis, salah satu Tujuan PMT yang dikreasikan menjadi berbagai macam olahan, menjadikan Makanan Tambahan ini menarik Bagi Balita, terutama bagi Balita yang  Susah Makan.  "Penyediaan makanan tambahan tetap dengan mengedepankan  Standar Gizi yang Baik untuk Balita," tandasnya.

Alhamdulillah, Kegiatan Sweping Bulan Nopember ini mendapat monitoring dari Ibu Keni (Kesos Ankid) dn Ibu Nur ( Kasie Keuangan Ankid ).

Harapan Kami Sebagai kader, agar kegiatan Posyandu ini dapat berlangsung secara rutin  setiap bulannya dilingkungan Rw 10. Dengan demikian, t
umbuh-kembangnya dan Status Gizi Balita dilingkungan RW-10 dapat senantiasa  terpantau dengan baik.

Posyandu Sahabat Kita...!!
Ayoo Ditimbang Di posyandu...!!









Minggu, 07 November 2021

GowesKisunda-10 Ahad (071121): "Trang Trang Kolentrang...Dan Hujan pun Berhenti..."



Ini dia delapan goweser yang tak takut jangar
siraman air hujan...




Pekan lalu goweser ibu-ibu RW-10 Ankid
tunjukan keberaniannya merangsek Summarecon


"Trang Trang Kolentrang...Si Londok Paeh Nundutan...
Mesat Gobang Kabulusan...Tikusruk Kana Durukan..."


Syair lagu itu dinyanyikan oleh Kang Isa Subarsa, di sekitar Jalan Sunda, ketika hujan mulai lebat yang memaksa goweser harus merapat dulu ke emperan pertokoan. Lagu buhun Sunda itu memang biasa dinyanyikan oleh anak-anak dahulu yang sedang bermain untuk "nyarang hujan" (Suatu iringan lagu bernada harapan agar hujan tidak jadi turun atau segera berhenti).

Karena lagu itu dinyanyikan sampai dua kali, karuan saja mendapat respon dari Kang Irsan.

"Wah, hebat euy, masih ingat lagu Sunda buhun jaman tai kotok dilebuan," respon Kang Irsan sambil melanjutkan ucapannya, "Bukannya Kang Isa itu orang Batak Asli?"

"Husss, ngaco...Yang batak asli mah tuh si bang Tampubolon yang selalu absen kalau gowes Minggu Pagi...kalau Kang Isa Subarsa mah, dari namanya juga ketahuan kalau gak salah asli Garut," kata Kang Nana sambil melipat tangan di dada bagai kedinginan sangat.

"Tapi yang cocok nyanyi itu mah sebenarnya Kang Nana sambil berdoa, ayo kang biar hujannga cepat berhenti," saran Kang Irsan.

"Gak enak ah, takutnya hujannya beneran berhenti," timpal Kang Nana sambil terpaksa diam-diam menatap langit dan mulai komat-kamit seraya mengeluarkan tiupan, "Puuahhh...puuaahhh..." katanya.

Karena sudah mulai reda, delapan goweser pun melanjutkan perjalananya dari Jalan Sunda menuju lampu merah belok kanan ke arah Jalan Lombok hingga berhenti di Warung Gudeg dan Soto Ayam Jalan Citarum. Kedelapan goweser pemberani yang tak takut jangar karena hujan itu, yakni: Kang Yopie, Kang Bubun, Kang Tisna, Kang Isa, Kang Yaya, Kang Irsan, Kang Randi dan Kang Nana.

Bergabungnya Si Anak Hilang

Ada yang mengejutkan saat gowes di Ahad kali ini. Bergabungnya kembali Bang Randi, yang oleh sebagian KisundaGowes-10 didaulat sebagai Si Anak Hilang.

"Bukan hilang bang Randi mah, tapi memang lagi Cuti Gowes di luar tanggungan Negara," celetuk seorang goweser yang tak sudi namanya di tulis disini.

"Sebenarnya bukan cuti juga sih, tapi kabarnya bergabung dengan Komunitas Goweser Eskrim, eh Ekstrim," timpal yang lainnya.

"Oh, ngono toch..." kata goweser lainnya lagi pakai aksen Jawa, padahal eta jalma urang Sunda kabina-bina.

Tapi apapun itu, kita senang Bang Randi kembali bergabung dengan kita. Soalnya kehadirannya juga memang dibutuhkan oleh komunitas. Terutama untuk membantu kondisi-kondisi darurat. Maklum, anak muda memang masih lebih sigap dalam bertindak.

Setelah puas menikmati rames gudeg ayam dan sebagian memilih Soto ayam, dengan sigapnya Kang Bubun untuk membereskan biayanya. Namun Kang Bubun harus gigit jari, karena sudah terlebih dahulu diselesaikan oleh Bendahara Kang Isa. Kali ini Kang Isa bener-bener menunjukkan kegagahannya guna menyelesaikan seluruh tagihan. "Ada saldo nongkrong yang tidak terpakai, tidak elok kalau tak digunakan," tandasnya kepada jurnalis Kisunda-10. Sementara untuk Kang Bubun, anggarannya untuk next saja, dan diusulkan untuk ditabung dulu agar lebih membuncah.


Sementara itu dedengkot KisundaGowes-10, Kang Dede Amar, tak bisa bergabung dengan kita, sehubungan beliau masih sibuk berkeliling menyelesaikan urusan perjalanan dinasnya. Kabarnya Ahad ini sedang berada di Bekasi untuk bertemu dengan jajaran Pengurus PGRI Bekasi. Dalam setahun, beliau harus berkeliling ke daerah untuk menggalang kekuatan PGRI yang Tangguh, Bermanfaat dan Bermartabat, demi memperjuangkan kesejahteraan para Guru termasuk Guru Honorer. Wajar, jika kapasitas beliau sebagai Ketua Umum PGRI Jabar digadang-gadang akan menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah. Semoga saja menjadi kenyataan, karena in syaa Allah, rezekinya pun akan mengimbas pada kita.

Oh, ya, perlu diinfokan pula bahwa pekan lalu, goweser ibu-ibu RW-10 Ankid, tak mau ketinggalan oleh bapak-bapak. Delapan Goweser Ibu-ibu RW-10 melakukan perjalan ke Summarecon Bandung. Wow...luar biasa...Semoga tetap jaga kesehatan dan keselamatan...

Akhirnya, seluruh goweser pun mulai hengkang pulang untuk ketemu bini di rumahnya masing-masing. Alhamdulillah...Semuanya selamat, sehat dan in sya Allah membawa keberkahan...//**nas














Selasa, 02 November 2021

Tip Aman Bersepeda Terutama Bagi Lansia



Goweser Lansia harus lebih hati-hati dan bisa lebih mengukur diri
Jangan memaksakan diri kalau sudah tak bertenaga

Seorang pesepeda dilaporkan meninggal dunia dengan dugaan mengalami serangan jantung saat mengikuti uji coba jalur road bike Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang pada Minggu (23/5) pagi.
Pesepeda tersebut ditemukan tidak sadarkan diri di JLNT Casablanca menuju Sudirman, Jakarta Pusat.

Dalam sepekan ini juga ada goweser yang meninggal di Cibodas Kab Bandung, serta beberapa peristiwa serupa yang kalau tidak terkendali dan berhati-hati maka bersepeda termasuk olahraga berbahaya.

Bersepeda memang sedang menjadi tren olahraga di masa pandemi Covid-19. Olahraga jenis ini dapat dilakukan dengan intensitas ringan dan memberikan manfaat positif, selain dapat meningkatkan imun tubuh, juga dapat membahagiakan suasana hati.

Namun, dalam kondisi tertentu, olahraga, termasuk bersepeda, juga bisa menimbulkan bahaya. Berikut tips aman bersepeda dan hal-hal yang patut diperhatikan.

Waktu Ideal Bersepeda

Dokter umum RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, Muliadi Limanjaya menjelaskan rutin bersepeda dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung, paru-paru, dan sistem peredaran darah di tubuh.

Aktivitas olahraga ini dapat melatih banyak otot tubuh seperti otot perut, paha, betis, dan kaki. Manfaat lain dari bersepeda adalah dapat membantu membakar lemak, mencegah obesitas, dan meningkatkan stamina.

Untuk menjaga kebugaran, Anda disarankan berolahraga minimal 2,5 jam dalam seminggu dengan intensitas ringan hingga sedang. Untuk memenuhi rekomendasi ini, Anda dapat bersepeda sesi pendek sekitar 30 menit sebanyak 3 hingga 5 kali seminggu.

"Sesi pendek namun sering akan lebih bermanfaat dibandingkan sesi yang cenderung lebih panjang namun dengan frekuensi yang kurang," kata Muliadi, September lalu.

Bersepeda dapat dilakukan pada pagi atau sore hari dengan mempertimbangkan cuaca. Bersepeda di pagi hari cenderung lebih disarankan karena udara yang lebih segar dan intensitas matahari yang belum terlalu tinggi.

Ingat untuk memakai pakaian yang nyaman dan menyerap keringat saat bersepeda.

Cara Meminimalkan Risiko

Bukan hanya mendatangkan manfaat bagi kesehatan, aktivitas bersepeda juga menyimpan risiko. Karena itu penting untuk melakukan pemanasan ringan sebelum berolahraga untuk mencegah cedera.

Berikut hal-hal yang patut diperhatikan saat bersepeda, seperti dilansir dilansir Yescycling.

1. Makan dan minum cukup

Pesepeda dianjurkan untuk makan dan minum yang cukup. Seseorang baiknya mengonsumsi makanan ringan setiap 20 menit sekali dan minum air mineral 1 liter setiap 1 jam.

Kekurangan asupan makanan akan menyebabkan lemas pada tubuh yang berarti kadar glukosa darah sangatlah rendah.

Makanan yang dianjurkan dibawa saat bersepeda jarak jauh adalah makanan yang praktis, yang dapat dikonsumsi di sela-sela waktu bersepeda, seperti oat bar, pisang, atau energy gel.

Untuk mencegah dehidrasi akibat kelelahan bersepeda, penting untuk membawa persediaan air minum saat bersepeda di luar ruangan.

2. Periksa sepeda sebelum perjalanan jauh

Memeriksa komponen sepeda sebelum melakukan perjalanan sangatlah penting, agar terhindar dari masalah teknis. Berikut 4 aspek penting mengecek kondisi sepeda layak jalan.
Roda: pastikan roda sudah terpasang dengan kencang dan presisi dan jangan lupa untuk cek tekanan angin
Rem: pastikan rem berfungsi dengan baik
Rantai: pastikan rantai todak kendor atau kekurangan pelumas
Shifter/pengatur gigi: pastikan hal tersebut dalam kondisi baik untuk membuat sepeda aman melewati berbagai situasi lintasan

3. Pakai alat pelindung

Penggunaan pakaian dan perlengkapan sepeda memberikan rasa aman dan nyaman, terlebih bersepeda jarak jauh. Berikut beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk bersepeda jarak jauh

- Helm dan sarung tangan
- Celana khusus sepeda
- Baju khusus sepeda
- Kacamata pelindung
- Sepatu
- Lampu sepeda

4. Carbo loading

Carbo loading merupakan istilah yang artinya memuat asupan karbohidrat dengan jumlah banyak untuk menyimpan glikogen pada otot. Carbo loading dilakukan setidaknya sehari sebelum jadwal bersepeda jarak jauh.

Asupan makanan kaya karbohidrat seperti nasi, pasta, ikan, kentang, dan buah yang memiliki karbohidrat tinggi, baik dikonsumsi untuk memperkuat massa otot ketika bersepeda.

5. Menggunakan GPS dengan alat deteksi detak jantung

GPS yang dilengkapi alat deteksi detak jantung menjadi hal yang sering diabaikan oleh pesepeda.

Fungsi dari GPS ini bertujuan untuk memberitahu jarak, waktu, kecepatan, rata-rata kecepatan hingga detak jantung. Alat deteksi detak jantung berguna untuk mengontrol keadaan jantung Anda selama perjalanan.

6. Atur posisi duduk

Selain memeriksa komponen sepeda, penting untuk Anda mengatur ulang posisi yang tepat dan nyaman saat berkendara. Ketinggian sadel amat memengaruhi kenyamanan bersepeda, pastikan Anda hafal posisi nyaman Anda.

Posisi sadel terlalu tinggi dapat mengakibatkan rasa pegal pada pinggul. Namun, sadel terlalu rendah dapat mengakibatkan tempurung lutut mendapat tekanan tenaga lebih dan berdampak nyeri pada lutut.

Atur ketinggian sadel dengan posisi yang nyaman bagi Anda agar berkendara jauh dapat dilalui dengan baik.

7. Berlatih dengan jarak yang lebih pendek

Baiknya seseorang melakukan latihan sebelum bersepeda jarak jauh. Masa otot akan terbiasa apabila seseorang bersepeda rutin sebelum bersepeda jarak jauh.

Saat hendak bersepeda sejauh 150 kilometer, lakukan pemanasan 50-75 persen dari jarak bersepeda atau 75-95 kilometer. Hal tersebut dilakukan agar tubuh terbiasa saat bersepeda jarak jauh. (tim/agn)

(https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210524071425-255-646015/tips-aman-bersepeda-dan-7-hal-yang-patut-diperhatikan/2).



Senin, 18 Oktober 2021

KisundaTouringRODA-10 Jilid II: "Musibah Ajaib Gunung Papandayan"

KisundaTouringRODA-10 Jilid-II To Bayongbong-
Gn.Papandayan diikuti 7 biker sejati plus 1 Sekuriti

Berfose di Kebun Naga Poernama Bayongbong
Garut. Suasana memukau pelayanan prima...


"Karena saya persis berada di belakangnya. Jadi saya tau percis bagaimana cara jatuhnya. Anehnya, jatuhnya itu tidak langsung gebrug ditempat, tapi melintir putar balik di bibir jurang. Jadi posisi jatuhnya motor itu seperti balik arah. Gak habis pikir saya. Yang saya kaget kakinya yang sebelah kiri kan tergencet motor sehingga tidak bisa bergerak. Yang kelihatan hanya tangan kanannya saja yang melambai-lambai di tengah rerumputan yang cukup tinggi. Saya langsung berhenti diikuti kang Yaya dan kang Tisna."

Begitu cerita kang Irsan, saat melihat langsung terperosoknya Kang Nana di bibir jurang Puncak Gunung Papandayan Garut (Jangan berpikiran bahwa jurangnya itu curam ke bawah, tapi jurang yang landai yang di bagian bawahnya ada perkebunan). Peristiwa naas yang dialami Kang Nana itu terjadi dalam kegiatan KisundaTouringRODA-10 "Go to Bayongbong-Gunung Papandayan" selama dua hari satu malam (16-17 Oktober 2021).

Menurut Kang Tisna dan Kang Yaya, keduanya memang kaget melihat Kang Irsan tiba-tiba menghentikan dan menstandarkan motornya di tengah jalan. Namun ketika melihat ke sebelah kiri, memang tampak ada orang yang roroesan seraya melambaikan tangannya, yang ternyata itu adalah Kang Nana. "Kami pun langsung turun dari motor dan langsung memberikan pertolongan," cerita Kang Tisna yang dibenarkan Kang Yaya.

Mengapa sampai terjatuh seperti itu. Menurut pengakuan kang Nana, seperti ada yang mendorong dari sebelah kanan sehingga terdorong kuat ke sebelah kiri yang banyak kerikil dan bebatuan. Dorongan kuat itu, tuturnya, entah ngantuk atau lelah, mengakibatkan kemudi tak terkendali dan langung terjungkal di bibir jurang yang ditumbuhi rerumputan cukup tinggi. Beruntung kondisi jalan menanjak dan menikung sehingga kecepatan mesin pun rendah.

Untuk menarik kembali sepeda motor yang terdampar memang tidak mudah. Empat orang yang ada berusaha untuk menariknya kembali ke jalan raya. Kang Yaya dan Kang Tisna menarik dari belakang dan Kang Irsan dan Kang Nana mendorong dari depan. Itu karena tingginya antara jalan raya dengan rerumputan yang berada di bibir jurang. Sementara Kang Purnomo dan Kang Bubun sudah lebih dahulu sampai di Gerbang Gn. Papandayan.

Namun yang ajaibnya, Alhamdulillah, tidak langsung meluncur ke bagian bawah jurang. Begitupun kondisi kang Nana, Alhamdulillah, tak ada rasa sakit, cedera atau memar sedikitpun, sungguh tak ada luka walau satu goresan. Begitupun yang terjadi dengan motornya, setelah diperiksa, anehnya tak ada kerusakan apapun. Alhamdulillah, Allah melindunginya dengan sebaik-baik perlindungan. Kang Nana pun tak lupa menyampaikan terima kasihnya kepada ketiga orang yang telah menolongnya. Dan sangat bersyukur posisi ketiga rekan itu berada di belakang. Rencana Allah dalam memberikan ujian musibah itu sangat indah. Alhamdulillah...

Kemudian Kang Tisna menyampaikan usulan  agar musibah itu diberitakan juga di www.Kisunda-10.com. Dan Kang Nana pun berjanji untuk memberitakannya.

Go to Kebun Naga Poernama Garut Nan Indah Mempesona

KisundaTouringRODA-10 Jilid-II ini sesuai tujuan yang direncanakan, yakni ke Bayongbong Garut - Gn. Papandayan. Kali ini diikuti oleh delapan peserta. Kedelapan peserta touring yang mendapat sandangan sebagai lelaki tua pemberani nan sejati itu, yakni: Kang Dammar/Dede Amar (Ketum PGRI Jabar, Ketua RW-10 yang juga dedengkot gowesNKRI-10 dan touringRODA-10), Kang Bubun (Kabid Usaha RW-10), Kang Tisna (Wakabid Konsultasi Bantuan Hukum RW-10), Kang Purnomo (Kabid Pembangunan RW-10), Kang Yaya (Kabid Lingkungan RW-10), Kang Irsan (Kabid Keamanan RW-10) dan Kang Nana (Kabid Infokom RW-10), serta mendapat pengawalan seorang Sekuriti RW-10 yakni Kang Usman.

Kami berkumpul dari Gazebo Pojok Toleransi pada Sabtu, 16 Oktober 2021, pukul 12.30 wib. Setelah diberikan briefing secukupnya oleh dedengkot, dilanjutkan dengan berdoa dan berfoto bersama. Tepat pukul 13.00, Tiga Yamaha Nmax, Satu Yamaha Aerox dan Tiga Honda Vario, mulai dihidupkan. Meluncurlah ketujuh motor itu dengan gagahnya melalui jalan kota yang biasa dilalui pada umumnya.

Kadungora adalah tempat peristirahatan pertama. Disini kami menikmati kue balok yang sangat legendaris yakni Kue Balok Maranti Kadungora. Kopi hitam kental, kue balok, bubur ayam dan beberapa makanan ringan lainnya, kami nikmati dengan seksama dan dalam tempo sekitar satu jam saja. Agak lama beristirahat, karena ada seorang biker, Kang Irsan, yang kebablasan hingga ke Leles. Kami harus menunggunya hingga dapat bersatu kembali.

Dari Kadungora langsung tancap gas lagi menuju Bayongbong dalam tempo sekitar dua jam dan langsung menuju Masjid Agung Bayongbong untuk melaksanakan Shalat Ashar berjamaah.

Menuju Kebun Naga Poernama Nan Indah


Setelah shalat Ashar di Masjid Agung Bayongbong, kami menuju Kebun Naga Poernama nan indah mempesona. Setelah mengamankan sepeda motor yang diduga sebagai gudang penampungan buah-buahan, kami pun menaiki tangga menuju semacam villa sederhana yang akan menjadi tempat menginap kami. Kami pun mulai kagum dengan pemandangan di sekelilingnya yang indah dan penuh dengan berbagai macam pohon buah-buahan.

Yang lebih kagum lagi adalah sambutannya kepada kami dengan menyuguhkan berbagai penganan khas Bayongbong, seperti Ladu, Bugis, Kue Cucur dan lain-lain. Tidak lupa pula beberapa penganan rebusan seperti, rebus jagung, ubi, kacang, singkong, pisang, dll semuanya disajikan dalam beberapa nampan. Wah luar biasa ini, kami benar-benar dimanja dengan berbagai macam makanan dan buah-buahan.

Di lahan perkebunan buah-buahan seluas sekitar 3 ha ini, ditumbuhi berbagai macam buah-buahan antara lain: Buah Naga (buah andalan), buah Nangka, buah Pepaya, buah Jambu, buah Alpukat, dan beberapa jenis buah lainnya.

Siapa sangka bahwa yang kami kunjungi ini adalah perkebunan buah-buahan yang dimiliki oleh Keluarga Besar Kang Bubun Somawinata. Pengelolanya adalah adik Kang Bubun sendiri dan beberapa Saudara serta keponakannya. Kang Bubun sendiri adalah anak ke-11 dari 13 bersaudara.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, penuh candatawa gogonjakan hingga peyut sakit, jelang maghrib kami bersiap untuk shalat Maghrib dan Shalat Isya berjamaah di Mushola yang tersedia. Tampil sebagai Imam Shalat adalah Kang Nana untuk melaksanakan shalat secara qoshor jamak taqdim dengan 3 rakaat Maghrib dan 2 rakaat Isya. Sebanyak 25 ayat Surat Yassin yang dibagi dalam empat bagian dilantunkan sang Imam. Hanya sayangnya karena Mushola berada di ruang terbuka, sehingga menurut sebagian makmum, suara Imam terbawa angin dan kurang terdengar  kuat sampai shaf belakang.

Jelang makan malam kami diterima di Cafe Poernama yang nyaman. Secara kebetulan ada tamu lain yang sedang berkunjung ke cafe ini, sehingga kami bisa melakukan hiburan bersama dengan menyanyikan beberapa lagu Karaoke yang memang sudah disiapkan.

Kang Dammar, sang fanatisme lagu-lagu dangdut mulai menunjukkan kepiawaiannya mengolah vokal dengan menyanyikan beberapa lagu dangdut. Tidak terkecuali lagu andalannya "Kandas" yang dipopulerkan oleh Evie Tamala. Kemudian selain mulai menyalurkan bakat-bakatnya dalam bernyanyi secara bergantian tak lupa dengan berjoget riang bersama. Kebetulan ada tiga wanita yang berkunjung ke cafe ini yang kebetulan juga hobi bernyanyi dan berjingkrak. Suasana pun semakin meriah dengan pertunjukkan kolaborasi seluruh pengunjung, bahkan bagian pelayan restoran pun turun berjingkrak bersama. Terutama setelah Kang Bubun dan Kang Dammar melakukan saweran kepada yang berjoget di arena.

"Tariikkk Kiiii.... (Maksudnya ajakan ke kami ke kaum aki-aki), kata salah satu tamu dari tiga wanita itu. Kami pun meresponnya cukup dengan cengar cengir terhadap ajakan itu.

Momentum yang membahagian itu diikuti dengan makan malam. Menu andalan cafe ini antara lain: goreng ayam kampung dan ikan goreng dipadu dengan sayuran dan sambal, tahu tempe, serta pilihan menu lainnya. Suasana pun menjadi semakin semarak dan romantis yang boleh jadi bisa membuat kawan-kawan lain menyesal gak bisa ikutan.

Hanya saja yang perlu dicatat dan difahami, bahwa kami peserta touring ini (termasuk para gowesernya) adalah kumpulan pribadi yang suka berkelakar. Jadi sikap dan perilaku kami hanya sebatas bercanda saja. In syaa Allah kami adalah kaum tua yang tetap bisa menjaga keislaman dan keimanan secara konsisten dan terjaga dengan sebaik-baiknya. Terlebih kami seluruhnya mendapat predikat sebagai haji. Hal ini perlu disampaikan agar jangan sampai terjadi keliru dalam memberikan penilaian dan persepsi.

Selesai hiburan dan makan malam di Cafe kami kembali ke Villa sekitar pukul 20.30 atau menjelang dimulainya pertandingan Persib melawan Bhayangkara FC.

Sampai di Villa rupanya obrolan  masih terus berlanjut hingga tengah malam. Sebetulnya jam 21.00 wib itu sudah mau ambil posisi untuk tidur. Tapi tiba-tiba: "Hei...bangun...bangun...kalau mau tidur mah di rumah saja...rek naon kadarieu sagala...,"gebrak Kang Dammar sambil mukul-mukul piring plastik ke daun pintu.

Karuan saja semuanya pada terperanjat terbangun kembali dan berkumpul di serambi depan seraya  menikmati sajian yang tak habis-habisnya karena saking banyaknya. Jelang tengah malam barulah  satu per satu menuju ttempat peraduan, ngaguher kerek yang kalau tidak salah bunyinya itu seperti ini: "keerrr....kruuukkk....gueerrrr....wwwueeerrr...ddduaarrrr...."

Di Bayongbong rupanya ada adzan pertama pukul 02.45 wib...satu per satu mulai bangun yang dikiranya adzan Subuh. Setelah tau itu merupakan adzan pertama beberapa rekan memilih kerek lagi. Sementara yang tidak bisa tidur dimanfaatkan untuk menunggu antrian mandi hingga shalat Subuh tiba.

Imam jamaah shalat Subuh kali ini Kang Tisna, yang melantunkan Surat Al-Mulk lengkap dengan do'a qunutnya. Selesai shalat Subuh kembali ke Villa untuk menikmati kopi luwak dan roti. Menjelang pagi Kang Dammar dengan Kang Usman pamit tidak bisa meanjutkan kebersamaan. Rupanya kang Dammar dalam kapasitas sebagai Ketua PGRI Jabar akan dijemput rekan-rekannya untuk melakukan kunjungan ke Pangandaran. Sementara motornya akan dibawa pulang oleh Kang Usman, yakni sekuriti yang diboncengnya sejak dari Bandung.

Tinggalah kami berenam. Pada pukul 08.00 wib kami mengemas barang-barang. Selanjutnya pamit kepada saudara-saudara Kang Bubun yang tinggal di rumah Villa di bagian atas. Momentum ini kami manfaatkan untuk berfoto bersama keluarga Kang Bubun serta foto-foto berbagai fasilitas yang tersedia disana.

Sebelum pulang, perjalanan kami lanjutkan ke Puncak Gunung Papandayan. Dari Kebun Naga sekitar 15 Km lagi harus kami tempuh untuk mencapai puncak gunung. Sekitar 1 km menuju Gerbang Gunung Papandayan, terjadilah persitiwa naas yang dialami Kang Nana, seperti yang diceritkan diatas.

Sesampainya di gerbang masuk Gunung Papandayan kami sempatkan untuk berfoto. Karena masih dalam suasana PPKM jadi belum boleh masuk ke Puncak Gunung. Kemudian kami pun langsung balik menuju ke Bandung. Namun sempat beristirahat di Saung Gunung di kaki bukit Gunung Cikuray (Seberang/berhadapan dengan Gunung Papandayan). Saung inipun ternyata milik Keponakan Kang Bubun. Disini pun kami dijamu dengan makan siang Goreng Ayam Kampung, terong rebus, petai rebus lengkap dengan sayuran dan sambal terasi, tahu, tempe, ikan sepat goreng, pokoknya menunya luar biasa nikmat.

Disini kami beristirahat cukup lama sekitar 1,5 jam. Sambil menunggu saatnya shalat dzuhur kami tiduran sejenak. Di saung ini pula kami melaksanakan shalat dzuhur berjamaah secara qashar jamak takdim. Dari sini perjalanan dilanjutkan, namun tak berapa lama kami masih harus mampir lagi ke rumah adik kandung Kang Bubun. Pasalnya di Kebun Naga ada barang yang tertinggal  milik Kang Tisna, kemudian dibawakan adik Ipar Kang Bubun ke rumahnya. Barang yang tertinggal itu antara lain kacamata yang katanya harganya muahal. (Maklum ari tos aki-aki mah, ari ka batur ngemutkeun kade ah bilih aya nu kakantun, eh taunya barang salira nu ditinggalkeun hahahha..red).

Perjalanan ke Bandung pun berlajut dan berjalan mulus walau agak tercecer. Ada yang sampai rumah pukul 15.00, ada yang pukul 15.30, ada juga seperti kang Nana yang baru sampai rumah pkl. 16.00 wib. (Hadeuh, ongkoh wae aki-aki tapi ari ngajalankeun motor meuni tipaparetot, siga nu diudag jurig wae hahaha...). Namun alhamdulillah semuanya selamat, sehat walafiat, hingga sampai rumahnya masing-masing.

Akhirnya, kami semua atas nama peserta Touring Jilid-II, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya kepada Kang Bubun dan Keluarga Besarnya yang telah memberikan jamuan yang full service kepada kami semua. Kami hanya dapat menyampaikan do'a, semoga Kang Bubun dan Keluarga Besarnya senantiasa berada dalam keberkahan, kebahagiaan, sehat walafiat dan semakin sukses usahanya. Semoga Allah Subahanahu Wata'ala membalas kebaikan Kang Bubun dan Keluarga dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal 'alamiin...//**nas


Biker KisundaTouringRODA-10 bukan
biker kaleng-kaleng


Rehat Pertama di Kue Blok Meranti Kadungora


Jamuan full service di Kebun Naga Garut


Shalat Ashar di Masjid Agung Bayongbong

Berfose di Gerbang Gn.Papandayan


Alamak...ada foto Ketua PGRI Jabar di Kue Balok



Berfoto bersama Keluarga Kang Bubun.
"Hatur nuhun bapak sareng ibu-ibu"


Ari kukitu na mah memang garagah lah...


Dijamu keponakan Kang Bubun di Kaki Bukit
Gunung Cikuray. "Duh, nikmatna!!"


Kang Nana dan Kang Irsan, dua biker andalan
bininya masing2...


Ini adalah menu andalan Kebun Naga
Nasi Goreng Buah Naga yg uenak luar biasa
yang pastinya bikin menyesal Kang Dammar
karena tak sempat menikmatinya.
"Kasihan yah Kang Dammar!!"




Dua aki2 perengih ikutan ber-tik-tok ria
dengan 3 tamu ibu-ibu yang sedang berkunjung

Berikut ini adalah Profile Video Kebun Naga "Poernama" Garut 
tempat kami bermalam...


Gowes Ahad (21/11): Terbukti Goweser Lansia Masih Suka yang Mulus-Mulus

Berfose di Summarecon Bandung "Merasakan nikmatnya bergowes ria" Berfose di GOR Arcamanik setelah merambah Cisaranten - Sindanglay...